Kamis, 19 Juni 2014

Tes Fisher

tes fiher digunakan untuk menguji perbedaan proporsi dua buah populasi yang hanya memiliki dua kategori
berdasarkan proporsi dua sampel tidak berpasangan. Jumlah n untuk tiap kelompok sampel
tidak harus sama.
Ø  Data nominal atau ordinal
Ø  Dua kategori
Ø  Dua sampel independen berukuran kecil
Ø   tabel kontinensi

-
+
jumlah
Kelompok I
A
B
A+B
Kelompok II
C
D
C+D
jumlah
A+C
B+D
N

Tes ini akan menentukan apakah kelompok I dan kelompok II secara signifikan berbeda dalam proporsi tambah dan kurang yang diterakan atas kelompok-kelompok itu.
Ø  Untuk uji signifikansi ( 6 £ n £ 30), gunakan Tabel I (Siegel, 1997) yang merupakan pengujian satu sisi, sedangkan untuk pengujian dua sisi harga p = 2 x pTabel.
Ø  Untuk menguji tes fisher menggunakan tabel I ( tabel harga-harga kritis D (atau C). berikut adalah langkah-langkah melihat tabel I:

1.      Tentukan harga A + B dan C + D dalam data
2.      Carilah harga observasi A + B dalam tabel I
3.      Tentukan harga C + D
4.      Untuk harga C + D observasi, beberapa harga B* yang mjungkin, carilah harga B di antara kemungkinan-kemungkinan yang ditunjukkan
5.      Amatilah harga D

Ø  Untuk uji signifikansi yang lebih cermat (eksak), gunakan rumus yang menghasilkan harga p uji satu sisi, sedangkan untuk pengujian dua sisi harga p dikalikan. Praktis digunakan jika n tidak terlampau besar. Meskipun demikian bisa dipakai untuk n > 30, tetapi kemungkinan di daerah penolakan tidak terlampau banyak
Ø  Jika p yang dihasilkan dari perhitungan ternyata £ a, maka tolak Ho.

Rumus :

Contoh soal
Sebuah studi kasus kontol ingin melihat pengaruh sex bebas dengan kejadian kanker kelamin, hasil yang diperoleh tersaji dalam tabel silang sebagai berikut:
Sex bebas
kanker kelamin
jumlah
ya
tidak
ya
3
0
3
tidak
1
3
4
jumlah
4
3
7

Penyelesaian:
Rumusan masalah:
Apakah ada pengaruh sex bebas dengan kejadian kanker kelamin?
Hipotesis:
Hₒ= tidak ada pengaruh sex bebas dengan kejadian kanker kelamin
Ha= ada penagruh sex bebas dengan kejadian kanker kelamin
Taraf kepercayaan 95%

Karena nilai p lebih besar dari pada nilai α = 0.05, dan karena tabel merupakan satu sisi sehingga nilai p hitung dikali 2, jadi=0.228 dan lebih besar dari pada nilai α maka kita menerima Hₒ.
Sehingga kesimpulannya adalah tidak ada pengaruh sex bebas dengan kejadian kanker kelamin.

Kamis, 12 Juni 2014



Pembelajaran pedagogi

Untuk pembelajaran semua orang pasti melewatinya, karena tidak mungkin ada orang yang tidak melewati bangku SD, SMP, dan SMA. Meskipun tidak semua jenjang pendidikan ini menerapkan pembelajaran pedagogi bisa saja andragogi, namun sejauh ini dan pada umumnya untuk tiga tingkatan belajar ini masih menggunakan pembelajaran pedagogi. Dimana pedagogi merupakan suatu pembelajaran peserta didiknya disebut dengan”siswa”, semua orang termasuk saya sendiri pernah menyandang sebutan ini selama kurang lebih sembilan tahun. Kenapa disebut dengan siswa karena memang disini fungsinya untuk diajari dan diberi masukan tentang ilmu pengetahuan dimana yang mengajari dan memberikan ilmu pengetahuan disini adalah guru, tentunya guru yang mempunyai ilmu pengetahuan.

Selanjutnya pembelajarannya yang dependen, jadi bukan diri sendiri yang mencari ilmu tapi menerima ilmu. Saya masih ingat waktu SD, SMP dan SMA guru memberikan materi tentang pelajaran, guru mengajari apa, kenapa, mengapa, bagaimana ilmu penegtahuan itu, seperti halnya pada pelajaran matematika, guru memberikan penjelasan tentang materi disertakan dengan contoh sesuai materi barulah saya sebagai siswanya mengerti akan materi matematika tersebut. Kalaulah misalnya tidak ada guru maka saya akan sangat kesulitran dalam memahami materi matematika tersebut.

Tujuan pembelajaran pedagogi sudah ditentukan oleh guru dan pihak sekolah, sehungga murid hanya mengikuti dan menerima ilmu pengetahuan sebatas yang sudah ditentukan. Misalnya, dulu waktu saya SD kelas 3, saya diajari perkalian 1 sampai 10, walaupun saya sudah hafal dan sudah pandai perkalian 1 sampai 10, maka hanya akan sampai disitu dulu belum boleh dilanjutkan dengan perkalian 11 sampai 20 atau selebihnya, karena semua sudah ditentukan. Sebatas mana yang harus saya ketahui sudah ditentukan dan dibagi-bagi waktu untuk mempelajarinya.

Pembelajaran pedagogi cenderung pasif karena sifat pembelajaran dengan ceramah. Siswa mendengarkan apa yang disampaiakan guru dengan tenang dan diam. Saya di SD, SMP dan SMA pada saat guru menjelaskan harus benar-benar didengarkan jangan melakukan kegiatan lain dan melihat guru yang memberikan pelajaran. Disini jika ada salah satu siswa yang membuat kerecokan maka akan dihukum oleh guru karena dia tidak mendengarkan guru yang memberikan ceramah pelajaran. Dan tak jarang juga saya mendapat teguran dari guru karena membuat kerecokan saat guru menerangkan.

Guru mengontrol waktu dan kecepatan, saya di SD, SMP dan SMA dulu yang mengontrol semua pembelajaran, yang mengontrol waktu, jadwal,waku istirahat, waktu pulang dan lain sebagainya. Guru yang mengontrol kecepatan selesainya sebuah materi, misalnya untuk materi perkembangan dan pertumbuhan pada pelajaran biologi, guru yang menentukan berapa lama materi itu, apakah selama satu kali pertemuan,dua kali pertemuan atau sebagainya jadi kami sebagai siswa hanya menerima materi-materi yang sudah dikontrol waktunya semua.

Dan juga pembelajaran pedagogi berpusat pada teori-teori saja, saya di SD, SMP dan SMA hanya menerima materi-materi yang bersifat teoritis saja tanpa aplikasi, karena untuk aplikasinya nanti setelah kuliah atau kerja. Misalmnya pada pelajaran pada pelajaran kimia , saya dan teman-teman saya hanya di ajari teori-teori pencampuran senyawa, teori pembuatan obat, tanpa ada aplikasi, karena untuk aplikasinya nanti setelah kuliah dibidang kimia atau kerja dalam pembuatan obat.

Saat saya di SD, SMP dan SMA saya hanya belajar dari apa yang diterangkan guru tanpa berfikir untuk penerapannya di kehidupan nyata, karena memang saya juga belum berfikir untuk penerapannya yang saya tahu bahwa guru mengajarkan saya tentang materi ini dan saya hanya berusaha bagaimana saya memahaminya tanpa terlambat dari teman-teman lainnya atau bahkan lebih cepat dari teman-teman lainnya. Sehingga membuat saya sangat tergantung pada guru tentang materi yang tidak saya ketahui, saya menganggap pelajaran itu adalah sesuatu yang harus saya kuasai dan untuk menguasai itu saya hanya perlu guru untuk mempelajarinya tanpa berfikir bahwa saya sendiripun mungkin bisa menguasainya. Namun karena sudah selalu bertanya pada guru, membuat saya tergantung pada guru.

Pengalaman belajar saya juga sedikit, hanya melihat guru, buku pelajaran dan materi yang dibawakan oleh guru. Mempelajari apa yang dikatakan oleh guru saja supaya saya naik kelas dan lulus,  dan berusaha lebih tinggi nilai dari teman-teman saya, orientasinya bagaimana saya bisa menguasai pelajaran bukan bagaimana saya bisa memberikan pelajaran, bersaing dengan teman-tem an dalam hal nilai siapa yang paling tinggi. Dan juga persaingan ini terjadi karena motivasi dari luar. Seperti halnya saya jika nilai saya lebih tinggi dari teman-teman saya maka saya akan mendapat juara satu, mendapat pujian dari guru dan orang tua dan juga teman-teman lainnya serta mendapat hadiah.

Minggu, 01 Juni 2014



Perbandingan tugas dan peran psikolog sekolah disetiap jenjang pendidikan

·         TK

Anak TK masuk pada tahap preoperational menurut teori Piaget, dimana anak pada tahap ini anak mulain merepresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar. Kata dan gambar ini merefleksikan indrawi dan tindakan fisik.
Peran dan tugas psikolog sekolah pada jenjang TK adalah :

  • 1.      Menjelaskan kepada guru TK supaya memberikan pengajaran pada anak sesuai dengan kemampuan kognitif anak.
  • Memberikan pengarahan kepada pendidik untuk lebih memfokuskan anak dalam bermain dan pengenalan lingkungan terutama pengenalan tentang diri. 
  •  Membantu anak yang kesulitan dalam sosialisasi dengan lingkungan dan interaksi dengan teman-temannya.
  • Membantu dalam pengembangan minat dan bakat anak yang digemari anak tersebut sehingga menjadi prestasi bagi anak.


·         SD

Anak SD dalam teorinya Piaget masuk pada tahap operational konkrit. Pada tahap ini anak mulai menggunakan logika yang memadai, dan juga pada tahap ini anak sudah mulai memecahkan operasional matematika, serta pada tahap ini anak mulai menghilangkan sifat egosentris dan hubungan dengan teman sebaya sangat mempengaruhi pada tahap ini.
Peran dan tugas psikolog pada jenjang SD adalah :
  • Karena anak SD sangat aktif bergerak jadi seorang psikolog sekolah harus mampu menjelaskan kepada guru agar menggabungkan belajar dengan bermain sehingga anak jadi lebih nyaman dalam belajar dan tidak terlalu dipaksa
  • Anak SD sangat senang bermain, sehingga seorang psikolog sekolah seharusnya mengawasi dan mengontrol anak dalam bermain, sehingga bermain anak terkontrol dengan baik.
  • Memberikan penjelasan pada guru untuk mempraktekkan pelajaran agar anak mudah memahami pelajaran
  • Dan selalu mengontrol dan mengawasi sosialisasi anak dalam lingkungan sekolah terutama interaksi dengan teman sebaya.

·         SMP dan SMA

Murid pada tingkatan smp dan sma sudah berada pada tahap operasional formal. Mereka sudah mengembangkan kemampuan untuk berfikir sistematis menurut rancangan yang abstrak dan hipotesis. Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.
 Peran psikolog sekolah disini untuk mengarahkan guru agar dapat memahami tahap-tahap perkembangan kognitif pada muridnya agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajarannya sesuai dengan tahap-tahap tersebut.  Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa tidak akan ada maknanya bagi murid.
Tugas psikolog sekolah pada tahap ini juga untuk membimbing murid dalam menentukan minat dan bakatnya, dan memberi gambaran tentang dunia perkuliahan, dan berbagai macam karir yang bisa digelutinya melalui psikotes (tes IQ/minat dan bakat/kepribadian).
Hal lain yang bisa dilakukan psikolog sekolah kepada murid pada tahap ini adalah dengan memberikan konseling, dan memberikan penyuluhan terhadap bahaya narkoba, tawuran, sex bebas, dan berbagai macam penyimpangan. Dikarenakan mereka secara pribadi masih rentan akan pengaruh lingkungan, baik itu pengaruh positif maupun negatif.